Registrasi Kosmetik
Fitur Disabilitas

Berita

Informasi / Berita

Sinergi Lintas Sektor sebagai Upaya Pengembangan Obat Bahan Alam Menjadi Fitofarmaka Melalui FGD dalam Semarak Pekan Jamu Badan POM

Oleh Administrator · 27 May 2024

Jakarta (27/05/2024) - Dalam rangka memperingati Hari Jamu Nasional ke-16 sekaligus membuka rangkaian Pekan Jamu Badan POM, Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik (OTSKK) telah menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Obat Bahan Alam menjadi Fitofarmaka secara hybrid. FGD ini diselenggarakan tidak hanya untuk membahas peran pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemanfaatan Fitofarmaka, namun juga mengidentifikasi potensi pendanaan penelitian di Kementerian/ Lembaga untuk mengawal pengembangan produk obat bahan alam (OBA) menjadi Fitofarmaka.


Plt. Kepala Badan POM, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia, Apt, M.Pharm, MARS, menyampaikan bahwa Badan POM sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi di bidang Pengawasan Obat dan Makanan, siap bersinergi dengan lintas sektor, berkontribusi secara konkrit, serta terus melakukan inovasi untuk percepatan pengembangan dan pemanfaatan OBA. Sinergi yang baik ini diharapkan akan mempercepat komersialisasi produk OBA menjadi fitofarmaka untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.


Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK sebagai Ketua Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka juga turut hadir memberikan arahan dalam FGD ini. “Untuk mewujudkan fitofarmaka perlu dibangun ekosistem pendukung meliputi kolaborasi berbagai stakeholder (pemerintah, akademisi, peneliti dan industri) sesuai kapasitas masing-masing serta diperlukan dukungan pendanaan untuk penelitian dari sektor pemerintah maupun swasta”, ucap Budiono Subambang,S.T., M.P.M.


Kegiatan FGD dimoderatori oleh Deputi Bidang Pengawasan OTSKK, Mohamad Kashuri, S.Si, Apt., M.Farm dengan narasumber dari berbagai Kementerian dan Lembaga yang merupakan pemangku kepentingan dalam pengembangan dan pemanfaatan fitofarmaka, yaitu Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Seluruh narasumber memaparkan peran masing-masing Kementerian dan Lembaga tersebut dalam mengawal fitofarmaka dari hulu ke hilir, yaitu dimulai dari ketersediaan bahan baku yang berkesinambungan, pemastian konsistensi mutu produk, pembuktian keamanan dan khasiat, serta peran pemangku kepentingan dalam mendorong pemanfaatan fitofarmaka di layanan kesehatan. Setelah pemaparan materi, FGD dilanjutkan dengan sesi tanggapan.


Para penanggap mengemukakan beberapa poin yang perlu diperhatikan antara lain perlunya perhatian terhadap kontinuitas/ketersediaan bahan baku herbal yang berkualitas untuk kemandirian industri, serta belum tersedianya metode analisis terstandar bagi industri untuk mendukung pengembangan fitofarmaka. Selain itu, dari aspek pendanaan, alangkah baiknya jika pemerintah tidak hanya mendanai riset yang mengarah ke hilirisasi, namun juga untuk riset eksploratif dan riset tematik. Terkait aspek regulasi, perlu terobosan dari sisi regulasi terkait persyaratan uji praklinik dan klinik serta revisi regulasi agar fitofarmaka dapat masuk dalam Formularium Nasional dan Panduan Praktik Klinis (PPK) sehingga dapat digunakan di layanan kesehatan. Untuk meningkatkan penggunaan fitofarmaka, perlu peran serta berbagai pihak untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada dokter, tenaga kesehatan (perawat), dan masyarakat bahwa fitofarmaka telah teruji klinis dan dilengkapi dengan farmakovigilans sehingga aman untuk dikonsumsi.


Melalui FGD tersebut, dapat disimpulkan beberapa poin, antara lain; penyediaan bahan baku merupakan faktor yang sangat penting dalam pengembangan OBA menuju Fitofarmaka yang bermutu dan berkualitas. Perlu adanya gerakan terintegrasi untuk mengawal sejak budidaya, pasca panen (GACP) dan memastikan bahan baku memenuhi standardisasi. BRIN dalam pengembangan OBA telah memiliki SDM yang kompeten (terkait standardisasi dan uji praklinik/uji klinik), sarana dan prasarana yang memadai termasuk memiliki kawasan riset tanaman obat dalam upaya untuk mendukung kemandirian bahan baku. Telah tersedia 14 skema pendanaan untuk pengembangan FF yang difasilitasi oleh lembaga pemberi dana. Skema pendanaan RISPRO LPDP telah mendanai 75 proyek riset terkait Jamu, OHT, Fitofarmaka, dan Tanaman Obat Indonesia. BRIN telah mendanai 6 penelitian dalam rangka pengembangan OHT dan FF. Selain itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi juga telah mendanai 11 penelitian melalui program Matching Fund Kedaireka. Upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan FF di layanan kesehatan juga telah digaungkan Kementerian Kesehatan melalui regulasi terkait dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan (Permenkes No.6 Tahun 2022 dan Permenkes No.37 Tahun 2023) serta ikut bertambahnya jumlah produk fitofarmaka pada Formularium Fitofarmaka. Ke depannya, perlu disiapkan metode untuk mendorong pemahaman dokter untuk meresepkan fitofarmaka pada layanan kesehatan.


Badan POM siap bersinergi dengan semua pemangku kepentingan dalam upaya mendorong pengembangan OBA menjadi Fitofarmaka, mendukung inovasi dan perkembangan teknologi, melalui penyiapan dan terobosan regulasi, intensifikasi pendampingan mulai dari penyusunan protokol hingga pelaksanaan uji praklinik/klinik. Selain itu untuk meningkatkan kompetensi peneliti dan pelaku usaha Badan POM melakukan Bimbingan Teknis CUKB, workshop dan webinar uji praklinik/ uji klinik secara berkala. Dengan terlaksananya FGD ini, diharapkan dapat menjadi dasar dalam perumusan tindak lanjut untuk strategi yang komprehensif dalam memperkuat pengawalan pengembangan Obat Bahan Alam menjadi Fitofarmaka dan pemanfaatannya yang melibatkan kerjasama semua pemangku kepentingan dari hulu ke hilir. (Khonsa)

Statistik Pengunjung

Registrasi Kosmetik
8.221 User

Pengunjung Hari Ini

Registrasi Kosmetik
663.206 User

Total Pengunjung Tahun 2024

Registrasi Kosmetik

Gedung Merah Putih Lt.3 Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat 10560, Indonesia

Registrasi Kosmetik

ditregotskkos@pom.go.id

Registrasi Kosmetik

021-4244691 ext. 3553

Follow us Registrasi Kosmetik Registrasi Kosmetik
Registrasi Kosmetik Registrasi Kosmetik

© 2024 Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI. All rights reserved.