Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus mendorong percepatan hilirisasi produk riset berbasis bahan alam menjadi produk komersial yang terdaftar dan berdaya saing. Berbagai produk inovasi berbasis bahan alam telah banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Namun demikian, proses hilirisasi riset menjadi produk komersial yang terdaftar masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak riset di tingkat perguruan tinggi, fakultas, maupun lembaga penelitian seperti LPPM dan Poltekkes Kementerian Kesehatan yang masih berhenti pada tahap publikasi ilmiah atau laporan akademik dan belum berhasil bertransformasi menjadi produk yang tersedia di pasar.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM telah melaksanakan workshop “From Research to The Market” melalui fitur BRIDGE yang pada tanggal 13 Mei 2026 secara hybrid yang dihadiri 102 peserta luring dan 819 peserta daring. Kegiatan ini menghadirkan narasumber yaitu Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik, Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemendiktisaintek, dan Peneliti Sekolah Farmasi ITB. Untuk mendukung program komersialisasi, hadir penanggap dari Direktur Pemasaran Produk Dalam Negeri Kemendag, Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, dan GP Jamu.
Muhammad Kashuri, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, mengungkapkan adanya kesenjangan yang membuat banyak riset laboratorium gagal menembus pasar industri. Akibatnya, berbagai inovasi bagus sering kali hanya berakhir sebagai laporan ilmiah atau jurnal akademis tanpa sempat diproduksi secara massal.
“Tantangan utamanya terletak pada belum terhubungnya standar teknis penelitian dengan kebutuhan industri serta permintaan pasar yang nyata,” ujar Kashuri.
Di samping itu, beliau menilai para akademisi masih perlu memperdalam pemahaman terkait klasifikasi registrasi produk bahan alam di BPOM yang cakupannya sangat luas mulai dari Jamu, Obat Herbal Terstandar, Fitofarmaka, Obat Bahan Alam lainnya, Kosmetik, Suplemen Kesehatan, Obat Kuasi, hingga sektor Pangan Olahan. Tidak seluruh produk berbasis bahan alam memerlukan data uji praklinik in vivo maupun uji klinik. Produk kategori jamu, misalnya, dapat didaftarkan berdasarkan riwayat penggunaan empiris. Oleh karena itu, hilirisasi produk inovasi tidak harus selalu diarahkan menjadi OHT atau fitofarmaka.
“Industri sering kali menghadapi kendala dalam pengembangan OHT atau fitofarmaka karena membutuhkan investasi besar, waktu penelitian praklinik dan klinik yang panjang, serta adanya ketidakpastian pasar,” jelasnya.
Sebagai bentuk komitmen dalam mempercepat hilirisasi riset, BPOM menghadirkan fitur BRIDGE (Bridging Research Innovation and Development for Green Economy). Tidak sekadar menjadi wadah penyimpanan data, BRIDGE hadir sebagai platform interaktif untuk mendorong transparansi kesiapan produk inovasi hasil riset sekaligus memperluas peluang komersialisasi produk berbasis bahan alam di Indonesia.
Fitur BRIDGE dirancang sebagai sarana yang mempertemukan produk inovasi riset dari para peneliti dengan pelaku usaha (matchmaking) yang memerlukan pembaruan produk sesuai. Melalui inovasi yang dapat diakses langsung melalui laman resmi registrasiotskk.pom.go.id/selasarotskk/BRIDGE, fitur ini dapat diakses oleh publik dan guna memaksimalkan keterjangkauannya akan ditautkan langsung dengan situs resmi berbagai asosiasi pelaku usaha antara lain antara lain GP Jamu, APSKI, GAPMMI, Perkosmi, AIRINDO, PPAK, AKKMI, dan APK2I. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi riset menjadi produk siap pakai yang memiliki nilai ekonomi di pasar.
BRIDGE juga diharapkan menjadi bagian dari pengembangan lanjutan terhadap riset-riset bahan alam yang telah didampingi oleh UPT/Balai POM sesuai dengan potensi kearifan lokal di masing-masing daerah.
Dalam sesi diskusi, peserta turut menyoroti tantangan teknis dalam hilirisasi riset, termasuk kesiapan data penelitian, strategi kemitraan dengan industri, serta mekanisme registrasi produk. BPOM menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pendampingan kepada peneliti dan pelaku usaha agar proses hilirisasi dapat berjalan lebih efektif.
“BPOM terus mendorong peningkatan daya saing produk nasional dan memperkuat kemandirian industri kesehatan dalam negeri. BRIDGE menjadi manifestasi peran pemerintah sebagai jembatan penghubung agar hilirisasi bahan alam memiliki ekosistem yang solid, mulai dari ketersediaan bahan baku, data mutu dan khasiat yang kredibel, hingga kepastian serapan oleh industri,” tutup Kashuri.